Showing posts with label bhavana. Show all posts
Showing posts with label bhavana. Show all posts

Friday, August 08, 2008

Brahma Vihara

Brahma Vihara berarti suatu kediaman yang penuh kebahagiaan. Brahma Vihara juga dapat dikatakan sebagaihasil pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk mencapai Brahma Vihara kita harus mengembangkan cinta kasih dan melenyapkan kebencian, mengembangkan rasa belas kasihan dengan melenyapkan keserakahan, mengembangkan perasaan simpati dengan melenyapkan iri hati dan dengan dengan mengembangkan keseimbangan batin dengan melenyapkan kebodohan.Untuk mengembangkan cinta kasih kta hendaknya melaksanakan Metta Bhavana. Untuk mengembangkan rasa belas kasihan kita melaksanakan Karuna Bhavana.

Metta Bhavana

Brahma Vihara sebagai kekuatan Ketuhanan yang memancar dari empat sifat ketuhanan yang disebut Catur Paramitha yakni: cinta kasih, kasih sayang, simpati terhadap kebahagiaan dan keberhasilan orang lain serta keseimbangan batin, serta memusnahkan kebencian, keserakahan, iri hati dan kebodohan yang bersemayam didalam diri kita.

Dalam upaya kita mencapai kediaman yang luhur yang penuh kebahagiaan yang disebut Brahma Vihara, pertama-tama kita harus dapat merenungkan akibat dari pikiran yang membenci dan keberkahan yang diberikan oleh pikiran yang dipenuhi cinta kasih. Selama kita belum dapat merenungkan akibat dari pikiran jahat, maka selama itu kita tidak akan dapat menguasai pikiran membenci itu. demikian pula kita tidak akan dapat mencapai keadaan pikiran yang luhur (mulia) sebelum kita mengerti akan keberkahan dari pikiran yang penuh dengan cinta kasih.

Kita harusnya menyadari bahwa kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih. Bilamana kebencian telah menodai pikiran kita, maka perbuatan, ucapan kita akan menjadi tidak benar dan kita tidak akan dapat mencapai kebahagiaan yang kita harapkan baik kebahagiaan untuk diri sendiri maupun kebahagiaan untuk orang lain. Bilamana pikiran membenci itu telah dapat kita atasi, maka kita akan dapat mengembangkan pikiran cinta kasih yang akan menunutun kita memasuki kehidupan yang bahagia dan sejahtera, baik untuk diri sendiri maupun untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain.

Menurut Visuddhi Magga, pada tingkat permulaan, kita hendaknya jangan menunjukkan cinta kasih kita kepada seorang yang kita senangi atau kepada orang yang berlainan jenis. Pertama kali kita harus mulai dengan diri kita sendiri, dengan menyatakan kepada diri kita sendiri dengan ucapan dalam hati sebagai berikut:
"Semoga kami berbahagia, bebas dari penderitaan" atau "Semoga kami bebas dari kebencian, penindasan dan kecemasan. Semoga kami dapat mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan".
seperti itu barulah kita berdoa untuk kebahagiaan orang lain sebagai berikut:
"Seperti halnya kami mencintai kebahagiaan dan tidak menyukai penderitaan, seperti halnya kami menginginkan kehidupan dan menghindari kematian, semoga semua makhluk demikian pula hendaknya".
Dibagian langit manapun kita pergi, tidak ada kita menjumpai sesorang yang lebiih mencintai orang lain, selain dirinya sendiri. Karena itu adalah wajar kalau kita lebih mencintai diri kita sendiri dari pada orang lain. Karena itu kita menyaksikan didalam kehidupann ini, bahwa setiap orang pertama-tama mencintai dirinya sendiri, kemudian cinta kasihnya baru diberikan kepada gurunya yang sangat dihormati atau kepada orang lain yang patut dihormati seperti misalnya kepada orang yang selalu memikirkan kehidupan suci yang sering merenungkan tentang penerangan sempurna. Setelah itu, barulah kita merenung didalam hati sambil berdoa:
"Semoga mereka yang senantiasa memikirkan hidup suci dan merenungkan tentang penerangan sempurna selalu hidup bahagia, bebas dari penderitaan".
Setelah cinta kasih berkembang didalam hati kita, kemudian pancarkanlah cinta kasih itu kepada teman-teman yang kita kasihi dan kemudian kepada orang-orang yang kita nilai kurang penting dan setelah itu barulah kita memancarkan cinta kasih itu kepada musuh-musuh kita. Kalau cinta kasih kita lenyap dan kemudian timbul perasaan dendam dan sakit hati kita harus kembali merenungkan cinta kasih itu kepada orang-orang seperti yang tersebut diatas.

Marilah kita mencoba merenungkan akibat dari membenci itu dengan menghayati syair dibawah ini:
Mereka yang membalas kebencian dengan kebencian
Lebih jahat dari orang yang pertama membencinya
Mereka yang tidak membenci orang yang membencinya
Ia adalah pejuang yang dapat memenangkan perjuangannya
Yang sangat berat, yang sangat sulit dan berbahaya
Mereka yang membenci dengan penuh dendam kesumat
Tetapi mereka yang tetap tenang dan selalu sabar
Maka berkah akan terlimpah kepada kedua-duanya
Untuk dirinya sendiri dan bagi musuh-musuhnya itu
Seseorang yang pikirannya ternoda oleh kebencian
Karena kegelapan telah menyelubungi jiwanya
Maka ia tidak dapat menghayati hakekat kebahagiaan
sehingga ia tidak akan dapat melihat kenyataan
Semua akan dapat dihancurkan oleh si pembenci
Baik yang mahal maupun yang murah harganya
Tetapi setelah kebenciannya lenyap dan musnah
Maka ia menjadi lemas dimakan api kebenciannya
Jika api kebencian telah berkobar
Maka dunia akan terbawa dalam kebakaran
Demikianlah hasutan si pembenci menjalar
Bagaikan asap api terus membumbung ke udara
Ia yang tidak mempunyai perasaan malu
Tidak takut melakukan perbuatan salah
Kalau berkata selalu kurang bijaksana
Pikirannya selalu diliputi kebencian
Baginya tidak ada lagi tempat berpijak
Diri kita adalah teman bagi yang lainnya
Kita sendiri mencintai semua orang
Tetapi dalam keadaan marah dan membenci
Ia sampai hati membunuh temannya
Karena pikirannya menjadi tidak seimbang
Karena hatinya dipenuhi oleh kesombongan
Orang yang mengambil jiwa orang lain
Dan menghabisi jiwanya sendiri
Karena perasaan benci dan putus asa
Sebenarnya ia memiliki pandangan yang gelap
Bahwasannnya dibelakang takbir kebencian
Tersembunyi suatu belenggu kematian
Karena itu, hancurkanlah belenggu itu
Dengan Vipassana, Panna dan Viriya
(Ketenangan, Kebijaksanaan dan Kesanggupan)
Bila manusia telah melihat kenyataan
Dapat menaklukkan sifat-sifat jahatnya
Kemudian mengamalkan kebajikan
Maka semua kegilaan bukan lagi miliknya
Sembuh dari kebencian dan putus asa
Bebas dari keserakahan dan nafsu keinginan
Barulah dapat mengolah diri dengan tenang
Dan selalu menjauhi segala kekotoran batin
Jika kita telah melaksanakan meditasi Metta Bhavana dengan mengembangkan "cinta kasih" atau "Metta" (Maitri) tetapi kita belum dapat menghapuskan rasa dendam dan benci, maka kita hendaknya kembali merenungkan sifat-sifat yang baik dari musuh-musuh kita dan jangan lagi menghiraukan kejelekan-kejelekan yang dimiliki oleh musuh kita itu. Tetapi kalau dengan jalan ini kita belum juga dapat mengatasi kasih dendam dan kebencian itu, maka kita harus kembali ingat dan merenungkan sabda Sang Buddha sebagai berikut:
"Wahai para siswa, ada lima cara untuk mengatasi kebencian dan menaklukkan kemarahan yang telah timbul dari diri kalian. Lima cara tersebut adalah sebagai berikut:"
  1. Kepada orang yang menimbulkan perasaan benci dihatimu, kita harus memancarkan cinta kasih, kasih sayang, simpati dan keseimbangan batin kepadanya.
  2. Jangan memperhatikan sesuatu keburukan yang dimilikinya.
  3. Jangan menggambarkan dalam diri kita sendiri tentang akibat dari kamma yang kita miliki, demikian pula kepada orang yang kita musuhi.
  4. Kita harus sadar, bahwa kita adalah pemilik dari perbuatan kita sendiri yang semuanya timbul dari diri kita pula.
  5. Bahwa perbuatan kitalah yang akan menjadi pelindung bagi diri kita atau akan menjadi musuh dari diri kita sendiri, karena kita harus menjadi ahli waris dari perbuatan baik kita atau perbuatan kita yang tidak baik.
Demikian ada lima cara yang dapat kita laksanakan unutuk mengatasi kebencian itu. Untuk dapat menghayati bahaya dari kebencian itu, marilah kita ikuti syair yang terdapat dalam Visuddhi Magga sebagai berikut:
Jika didalam hatimu terdapat musuh
Yang akan mencelakakan dirimu
Mengapa kau terus menyiksa batinmu
Yang tidak berada didaerah musuhmu?
Keluargamu telah kau berikan cinta kasih
Tetapi suatu ketika kau tinggalkan mereka
Dalam keadaan sedih dan dalam keadaan duka
Mengapa tidak kau musnahkan pikiranmu yang membenci
Yang telah memberimu begitu banyak penderitaan?
Sadarlah kau telah bermain-main dengan kebencian
Yang akan menimbulkan kehancuran total pada dirimu
Kebajikan yang kau ciptakan telah kau tinggalkan
Bukanlah ini, karena ini merupakan kebodohan yang keterlaluan?
Bila seseorang berbuat jahat kepadamu
Wajahmu menjadi merah oleh kemarahanmu
Kemudian kamu tanyalah kepada hati nuranimu sendiri
Apakah kamu mau bernuat jahat seperti dia?
Jika ada seseorang telah mengganggumu
Dengan perbuatannya yang tidak menyenangkanmu
Mengapa kau biarkan hatimu menjadi marah
Mengikuti kesenangannya si penggoda?
Bila dalam keadaan marah kau melakukan
Suatu perbuatan jahat kepada musuhmu
Atau kau tidak berbuat jahat kepada musuhmu
Sekurang-kurangnya kau akan merasa tersiksa
Oleh kebencian yang berkobar didalam dirimu
Jika seorang berlaku bagaikan babi yang buta
Pada waktu kemarahan menyerang dirinya
Mengapa kau mau meniru perbuatannya itu
Dan membiarkan kebencianmu terpelihara dalam hatimu?
Kemarahan dan kebencian seseorang kepadamu
Telah membawamu kedalam kegelisahan batin
Kebencian itulah yang seharusnya dilenyapkan
Mengapa kau bersedia tanpa sebab yang jelas?
Bila seseorang membenci orang lain
Siapa sebenarnya yang menderita?
Kalau bukan dirimu sendiri
Kaulah yang menjadi sebab penderitaanmu
Mengapa kau harus membenci orang lain?
Kalau kita hendak menghayati hakekat dari perasaan cinta kasih (Metta/Maitri) cobalah hayati dan amalkan khotbah Sang Buddha tentang cinta kasih yang terkenal dengan "Karaniya Metta Sutta" atau khotbah tentang cinta kasih.

Karaniyamatthakusalena
Yan tam santam padam abhisamecca
Sakko uju ca suju ca
Suvaco c'assa mudu anatimani
Santussako ca subharo ca
Appakicco ca sallahukavutti
Sant'idriyo ca nipako ca
Appagabbho kulesu ananugiddho
Na ca khuddam samacare kinci
Yena vinnu pare upavadeyyum
Sukhino va khemino hontu
Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Ye keci panabhut'atthi
Tasa va thavara va anavasesa
Digha va ye mahanta va
Majjhima rassaka anukathula
Dittha va ye va addittha
Ye ca dure vasanti avidure
Bhuta va samhavesi va
Sabbe satta bhavantu sukhit'atta
Na paro param nikubbetha
Natimannetha katthaci nam kanci
Vyarosana patighasanna
Nannamannassa dukkhamiccheyya
Mata yatha niyam puttam
Ayusa ekaputtamanurakkhe
Evam pi sabbabhutesu
Manasam bhavaye aparimanam
Mettan'ca sabbalokasmim
Manasam bhavaye aparimanam
Uddham adho ca tiriyan ca
Asambadham averam asapattam
Tittham caram nisinno va
Sayano va yavat'assa vigatamiddho
Etam satim adhittheyya
Brahmametam viharam idhamahu
Ditthin ca anupagamma
Silava dassanena sampanno
Kamesu vineyya gedham
Na hi jatu gabbhaseyyam punareti 'ti

Artinya

Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan
Untuk mencapai ketenangan
Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong
Merasa puas, mudah dilayani
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang inderanya, berhati-hati
Tahu malu, tidak melekat pada keluarga
Tak berbuat kesalahan walaupun kecil
Yang dapat dicela oleh para bijaksana
Hendaklah ia berpikir "semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram"
Semoga semua makhluk berbahagia
Makhluk hidup apa pun juga
Yang lemah dan kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau besar
Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk
Yang tampak atau tak tampak
Yang jauh atau pun yang dekat
Yang terlahir atau yang akan terlahir
Semoga semua makhluk berbahagia
Jangan menipu orang lain
Atau menghina sipa saja
Jangan karena marah atu benci
Mengharap orang lain celaka
Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan jiwanya
Melindungi anaknya yang tunggal
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas
Kasih sayangnya kesegenap alam semesta
Dipancarkannya pikirannya itu tanpa batas
Keatas, kebawah dan kesekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan
Selagi berdiri, berjalan atau duduk
Atau berbaring, selagi tiada lelap
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dikatakan berdiam dalam Brahma
Tidak berpegang pada pandangan salah tentang aku yang kekal
Dengan sila dan penglihatan yang sempurna
Hingga bersih dari nafsu indera
Ia tak akan lahir dalam rahim manapun juga

Dalam kehidupan dengan cinta kasih ini, Sang Buddha menyatakan bahwa nilai dari kemewahan dan kesenangan duniawi tidak ada seperenambelas dari nilai cinta kasih itu. Cinta kasih melebihi semuanya, bersinar dan memancar menembus sampai hati nurani kita.

Karuna Bhavana

Karuna Bhavana berarti perkembangan dari kasih sayang. Menurut kisah Kitab suci Visuddhi Magga, setiap orang hendaknya berusaha untuk memiliki perasaan kasih sayang (karuna) pada saat menyaksikan sesuatu yang menimbulkan perasaan belas kasihan seperti misalnya menyaksikan orang yang jatuh melarat, penuh kedukaan dan merana hidupnya dalam keadaan miskin dan sengsara. Bilamana kasih sayang kita telah berkembang, maka kita akan turut merasa sedih menyaksikan suatu penderitaan yang dialami seseorang, sehingga timbul didalam diri kita dorongan untuk memberikan pertolongan. Demikian kalau kita telah menghayati dan mengamalkan kasih sayang (karuna) didalam kehidupan ini, maka berarti kita telah dapat menembus semua makhluk dengan kasih sayang.

Selanjutnya kasih sayang yang telah kita miliki, sama halnya dengan cinta kasih, pertama-tama janganlah ditujukan kepada orang yang paling kita senangi, keberkahan yang kita dapat dari perasaan kasih sayang, nilainya sama dengan berkah dari kalau kita memiliki cinta kasih. Cara untuk mengembangkan karuna atau perasaan kasih sayang sama dengan kita mengembangkan cinta kasih.

Mudita Bhavana

Mudita Bhavana adalah perkembangan dari perasaan simpati melihat orang lain berbahagia dan berhasil. Perasaan mudita ini dapat dimulai dari teman yang kita senangi dengan menumpahkan perasaan mudita sambil berkata:
"Oh alangkah bahagianya makhluk yang mendapat kegembiraan, Oh alangkah baik dan nikmatnya memiliki perasaan mudita".
Bilamana kita menyaksikan orang yang berbudi luhur bahagia dan sentosa hidupnya, hendaknya kita berusaha untuk turut merasakan kebahagiaannya.

Bagaimana caranya kita pada tingkat permulaan menembus suatu tujuan dengan pikiran yang berisi mudita? Caranya adalah demikian:

"Bila melihat seseorang yang berbudi luhur dan menyenangkan hati, hati kita lalu menjadi gembira" Demikianlah caranya menembus semua orang dengan mudita. Keberkahan dari cara memeperkembangkan mudita sama dengan bagaimana caranya mengembangkan metta.
Betapa bahagianya dan gembiranya hatiku
Menyaksikan kebahgiaan orang lain
Tiada perasaan iri didalam hatiku
Menyaksikan kebahagiaan dan keberhasilan
yang telah dicapai oleh siapapun dalam hidupnya
Karena hatimu telah penuh dengan perasaan mudita.
Upekkha Bhavana

Perenungan ini pertama-tama harus ditujukan kepada orang yang telah mencapaikesempurnaan, yang sudah tidak terikat lagi kepada suka dan duka seperti yang dikatakan di dalam Vibh XIII "Bagaimana caranya supaya kita memiliki keseimbangan batin, tiada lagi tergoyahkan oleh perasaan suka dan duka dalm menghadapi segala macam tantangan dan godaan itu? Caranya ialah Bilamana melihat seseorang yang acuh tak acuh terhadap sesuatu yang mengenai dirinya baik terhadap sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia tetap tenang, demikian pula caranya kita menembus semua makhluk dengan keseimbangan batin itu"

Dengan memiliki upekkha ini, maka kita akan dapat mencapai Jhana yang ke IV, sedangkan melalui perkembangan cinta kasih (metta) kasih sayang (karuna) dan simpati terhadap kebahagiaan dan keberhasilan seseorang (mudita) kita akan sampai pada Jhana III. Bilamana pikiran kita telah benar-benar terpusat, maka pikiran kita menjadi tenang dan kita tidak lagi dapat terpengaruh oleh hal-hal yang jahat, yang tidak baik. Untuk mencapai perkembangan batin ini, kita harus melatih diri untuk mengembangkan metta, karuna, mudita didalam hati nurani kita, sehingga kita benar-benar memiliki pedoman serta landasan hidup yang kokoh, yang dapat menjadi kendaraan bagi hidup kita.

Demikianlah bila kita telah berhasil melatih diri dalam upaya kita untuk mengembangkan Catur Paramitha atau empat sifat Ketuhanan tersebut, yakni mengembangkan cinta kasih melalui meditasi metta bhavana, mengembangkan kasih sayang melalui meditasi karuna bhavana, mengembangkan perasaan simpati terhadap kebahagiaan dan keberhasilan orang lain melalui meditasi mudita bhavana dan mengembangkan keseimbangan batin melalui meditasi upekkha bhavana, maka kita akan berhasil mencapai Brahma Vihara yakni suatu kediaman yang luhur, serta kediaman yang bahagia yang sering juga disebut kediaman Tuhan.

Saddhu... Saddhu... Saddhu...


Sunday, July 20, 2008

Samadhi Bhavana

Samadhi Bhavana
Oleh: Venerable Ajahn Chah
Alih bahasa: Haryandi ST
Penerbit: Vidyasena

Para pencari kebajikan yang berkumpul bersama untuk mendengarkan Dhamma, dengarkanlah dengan damai. Mendengarkan Dhamma dengan damai maksudnya berusaha mengarahkan pikiran Anda hingga satu titik, kemanunggalan pikiran. Berikan perhatian pada apa yang Anda dengar, kemudian biarkan itu berlalu. Inilah yang dinamakan mem- buat pikiran tinggal dalam kedamaian.Dapat mendengarkan Dhamma merupakan berkah utama dan salah satu aspek dalam mempraktekkan Dhamma. Ketika mendengarkan Dhamma, doronglah diri anda, arahkan batin-tubuh ini pada kekhusukan meditatif, samadhi.

Di jaman Sang Buddha, murid-muridNya mendengarkan Dhamma dalam keadaan samadhi guna memahami apa yang disampaikan Sang Buddha, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya benar-benar dapat merealisasikan Dhamma selagi mereka duduk, mendengarkan.

Tempat ini sudah baik dan cocok untuk berlatih meditasi. Saya telah menginap disini beberapa malam dan saya merasa bahwa ini adalah tempat yang penting. Pada level eksternal, di sini sudahlah tenang dan damai; sisanya tinggal urusan internal, yakni: apa yang ada di dalam batin dan pikiran anda. Untuk itu, saya minta Anda semua mengerahkan usaha untuk berkonsentrasi, namun janganlah jengkel apabila pikiran ini hanya bisa damai untuk beberapa saat saja.

Mengapa Anda datang kemari untuk berlatih meditasi? Sebabnya karena pikiran dan batin Anda belumlah bisa mengerti hal-hal yang seharusnya dipahami. Dengan kata lain, Anda belum memahaminya sesuai dengan kebenaran, sebagaimana adanya sesuatu atau apa itu sesungguhnya. Mana yang benar dan mana yang salah? Apa itu yang membawa penderitaan bagi Anda dan apa yang menyebabkan kebimbangan Anda? Jadi pertama-tama Anda kemari untuk membuat diri Anda tenang.

Alasan Anda datang kemari guna mengembangkan ketenangan dan pengendalian diri adalah karena batin dan pikiran Anda belumlah tenteram. Batin Anda tidak tenang, kacau, tak terkendali; banyak ke- bimbangan dan kegelisahan. Itulah mengapa Anda berusaha ke sini hari ini, maka dari itu: Anda musti meneguhkan batin buat mendengarkan Dhamma.

Saya minta Anda berkonsentrasi, dengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan saya sampaikan. Saya minta ijin berbicara agak lugas karena memang begitulah gaya karakter saya. Namun, kendatipun saya berbicara dengan tegas dan keras, sesungguhnya saya melakukan ini dengan penuh metta (cinta kasih), — terhadap Anda semua. Saya mohon maaf apabila apa yang saya sampaikan ada yang membuat Anda tak nyaman, ini hanya karena perbedaan budaya antara Thailand dengan negeri Barat saja.

Sebenarnya, berbicara sedikit galak itu barangkali justru akan bermanfaat: guna memicu orang-orang untuk tetap mendengarkan; karena kalau tidak, mungkin mereka jadi ngantuk atau acuh tak acuh, tanpa mengerti sesuatu pun; mereka cenderung sibuk dengan dirinya sendiri dan bermalas-malasan.

Dalam praktek, meskipun kelihatannya terdapat banyak cara, sesungguhnya hanya ada satu. Seperti pohon buah, dapat saja kita memperoleh buah dalam waktu yang singkat dengan mencangkok, tetapi pohonnya tidak akan bertahan lama, tak bisa awet. Cara lain adalah menanam bibitnya, menyuburkan dan merawatnya, dengan begitu pohon yang tumbuh akan benar-benar kuat dan awet sekali. Praktek berjalan persis dengan kebenaran ini.Pada masa awal-awal praktek, saya pun punya masalah untuk memahami ini.

Saat dimana saya tidak mengetahui apa itu sesuatu (sesungguhnya), sebagaimana adanya, saya dapati duduk bermeditasi sungguh merupakan penderitaan, pernah hingga meneteskan air mata dalam banyak kesempa- tan. Dalam beberapa segi, saya kadang mengarahkan terlalu keras, pada waktu lain kurang keras, tidak pernah menemukan level yang "pas".

Untuk berpraktek di jalan kedamaian ini, berarti bukanlah terlalu keras pun tidak terlalu kendur, pokoknya: yang pas (just right). Saya dapat melihat banyak dari Anda yang kemari sangat bingung akan hal ini. Ada beragam orang yang berpraktek dengan cara yang berbeda- beda pula, dan mereka telah belajar dari banyak guru. Dan ketika Anda datang kemari untuk berpraktek bersama, hal itu menimbulkan banyak kebimbangan.

Guru yang ini berkata Anda harus berpraktek seperti ini, guru yang itu mengajarkan harus begitu, guru lainnya mengatakan lain lagi dan seterusnya. Anda duduk disini dalam konflik-batin dan menjadi gelisah, tanpa mengetahui metode mana yang harus digunakan, tanpa mengerti substansi berpraktek yang sesungguhnya; hanya menghasilkan kebingungan. Ada banyak sekali guru-guru dan juga ajaran-ajaran, tidak ada yang tahu mana yang sebaiknya dipakai guna membawa keharmonisan dalam praktek bersama. Akibatnya hanyalah kebimbangan dan ketidakmenentuan di sepanjang waktu.

Jadi berusahalah untuk tidak berpikir terlalu banyak. Jika Anda berpikir, lakukanlah dengan kesadaran (awareness). Pertama Anda perlu membuat pikiran Anda tenang. Ketika "yang mengetahui" hadir di situ, tak perlu lagi berpikir. Keawasan akan muncul tepat di situ, dan ini bakal menjadi kebijaksanaan (panna). Bentuk-bentuk pemikiran biasa bukanlah panna, itu cuma pikiran mengembara tanpa tujuan, akhirnya hanya menghasilkan kegelisahan.

Jadi pada tahap ini, cobalah untuk tidak berpikir. Di rumah, tidakkah Anda sudah berpikir banyak sekali? Itu hanya mengacaukan batin ini. Anda perlu mengembangkan "yang mengetahui" (the knowing) disini. Pikiran yang obsesif bahkan bisa membuat Anda menangis. Cobalah!, larut tenggelam dalam rentetan pemikiran-pemikiran yang terdelusi. Ini bukanlah kebenaran (truth), bukan panna. Sang Buddha adalah orang yang sangat bijaksana: beliau belajar bagaimana cara menghentikan pemikiran (how to stop thinking). Dengan cara yang sama, kita semua praktek disini guna menghentikan pemikiran; maka duduklah dengan tenang. Awalnya haruslah tenang dulu, bila yang ada hanya pemikiran-pemikiran maka panna tidak akan muncul, - tak ada Dhamma disitu. Segala yang timbul (pemikiran-pemikiran), akan segera berkembang biak terus-menerus. Jika pikiran sudah kalem, tiada perlu lagilah untuk berpikir; kebijaksanaan pun akan muncul dengan sendirinya di situ. Selama Anda masih berpikir, panna tidak akan muncul. Begitu pikiran kalem dan mengendap, ke-awas-an akan muncul dalam ketenangan tersebut. la akan berisi keduanya: pemikiran dan kebijaksanaan berpasangan. Apabila pikiran tak bisa kalem, maka tiada panna di situ, hanya pemikiran-pemikiran belaka dan berakibat kegelisahan.

Dalam MEDITASI untuk menenangkan pikiran, janganlah berpikir terlalu banyak. Pokoknya bertekad bahwa: sekaranglah saatnya melatih pikiran, tidak ada lainnya. Jangan biarkan pikiran melenceng ke kiri atau kanan, ke depan atau belakang, tersandung ke atas atau terpeleset ke bawah. Anda tidak mengerjakan hal lain kecuali mempraktekkan anapanasati (perhatian penuh pada napas). Letakkan perhatian Anda pada atas kepala, lalu perlahan-lahan turun ke bawah, melalui badan hingga ke ujung kaki, dan kembali ke ubun-ubun kepala. Sapu-kan kesadaran turun melewati sekujur bagian tubuh, amati, gunakan panna. Beginilah caranya hingga Anda mendapatkan pemahaman awal akan sifat tubuh ini...

Selanjutnya, mulailah bermeditasi. Pahami bahwa: tugas Anda saat ini semata-mata hanya mengamati: napas masuk, napas keluar. Jangan memaksa napas lebih panjang atau lebih pendek dari normalnya, cukup biarkan ia berjalan dengan nyaman. Jangan memberi tekanan apapun pada-nya, cukup biarkan napas mengalir seimbang, lepaskan segala sesuatunya sejalan dengan tiap napas-masuk dan napas-keluar...Perlu dipahami bahwa Anda sedang: berpraktek sembari melepas – membiarkan segala sesuatunya berlalu (letting go); -- namun harus selalu ada ke-awas-an disitu.

Anda harus tetap menjaga kesadaran (awareness) ini selagi Anda membiarkan napas masuk dan keluar dengan senyaman mungkin. Tak perlu memaksa ataupun mengendalikannya, cukup biarkan napas mengalir dengan enteng dan alamiah. Peliharalah pemikiran bahwa pada saat ini: tidak ada tugas atau urusan lain apapun yang perlu dikerjakan. -- Pemikiran-pemikiran seperti: apa yang akan terjadi, apa yang akan saya ketahui, apa yang akan saya jumpai, mungkin saja muncul selama duduk.Tapi begitu mereka muncul, sekedar biarkanlah buah-buah pikir tersebut berakhir dengan sendirinya. Tidak ada sesuatu pun yang perlu dikerjakan dengannya.

Selama duduk bermeditasi, tidak perlu memperhatikan sensasi-sensasi atau perasaan-perasaan yang muncul. Begitu pikiran ditimpa oleh rasa, begitu timbul perasaan atau sensasi di dalam pikiran, sekedar: lepaskanlah -- biarkan itu berlalu. Entah itu balk atau buruk tidaklah penting. Saat ini bukan urusan Anda untuk berbuat sesuatu terhadap hal-hal tersebut, biarkan itu semua berlalu dan kembalikan fokus perhatian pada napas. Tetap pelihara ke-awas-an pada napas, napas masuk dan napas keluar. Jangan menciptakan penderitaan dikarenakan napas sepertinya terlalu dangkal atau terlalu dalam. Hanya amati saja, tanpa mencoba untuk mengendalikan ataupun menahannya dengan cara apapun. Dengan kata lain, jangan melekat! Sekali Anda memahami ini, dan membiarkan napas berlangsung sebagaimana mestinya, secara alami maka pikiran pun akan mengendap tenang. Sembari Anda teruskan, berangsur-angsur pikiran akan merelakan lepas segala sesuatunya dan beristirahat. Napas pun kian halus dan semakin halus hingga akhirnya begitu lembut sehingga seolah-olah berhenti. Baik tubuh maupun pikiran terasa enteng, semua rasa capek hilang, yang tersisa hanyalah satu titik saja yaitu,"mengetahui". Pikiran telah mencapai keadaan-tenang (state of calm)...

Jikalau pikiran sangat gelisah, kembangkanlah sati (perhatian penuh). Tarik napas dalam-dalam hingga tiada ruang buat menampung udara lagi, lalu lepaskan hingga habis tak bersisa. Ulangi, tarik napas dalam-dalam hingga penuh, kemudian hembuskan habis. Lakukan ini tiga kali. Tegakkan konsentrasi dan pikiran pun akan jadi lebih kalem. Apabila ada lagi impresi perasaan yang timbul serta membuat pikiran gelisah, ulangilah proses diatas. Hal ini dapat dipakai baik ketika meditasi duduk maupun jalan. Bila sedang bermeditasi jalan dan pikiran Anda kacau, terganggu, berhentilah, bawa perhatian Anda hingga titik tenang dan kembalikan kesadaran mengetahui (sense of knowing) hingga pikiran fokus pada obyek meditasi, barulah kemudian lanjutkan berjalan.

Tidak ada perbedaan antara meditasi duduk dan jalan, hanya istilah dan posturnya yang berbeda. Kadang-kadang terjadi ketidak menentuan, Anda butuh sati di sini, jadilah "Ia yang Mengetahui" (the one who knows), terus ikuti dan periksa pikiran yang gelisah ini, apapun wujudnya..Inilah manfaat sati, menjaga dan melindungi pikiran, pikiran pun menjadi the one who knows. Dalam menjaga pikiran dengan keawasan apapun kondisi yang muncul didalamnya. Anda harus pertahankan `kesadaran yang mengetahui' ini dan jangan lalai atau lupa.

Itulah perihal sati, mengurus dan mengawasi pikiran. Sekali pikiran menyatu dengan sati, maka bakalan ada sejenis kesadaran tertentu yang selalu hadir. Begitu pikiran mampu mengembangkan ketenangan, ia bakal terus dibawah pen- gawasan ketenangan itu, seperti seekor ayam yang dikurung dalam kandang. Begitu masuk ke dalam kandang, ia tak dapat lagi keluyuran keluar, namun ia masih dapat jalan- jalan di dalam batas kandang. Jalan mondar-mandir tidak membawa kerugian yang besar karena ayamnya berjalan di dalam kandang. Keawasan yang hadir saat pikiran tenang dan mempunyai sati, bukanlah sesuatu yang dapat membuat Anda gelisah. Berarti: kapan saja ada pemikiran (thinking) atau berbagai bentuk sensasi, musti berlangsung dalam keadaan tenang ini, dengan demikian takkan mengakibatkan gangguan ataupun kekacauan.

Beberapa orang tidak ingin mengalami sensasi-sensasi atau buah-buah pikir sama sekali, tapi ini justru namanya berlebihan. Sensasi-sensasi dan perasaan tetap muncul di dalam keadaan-tenang. Pikiran mengalami perasaan-perasaan dan ketenangan bersama-sama, tanpa terganggu. Ketika pikiran tenang seperti ini, kecil kemungkinan timbul konsekuensi yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan adalah saat ketika ayam keluar dari kandangnya. Misal, ketika Anda sedang memperhatikan napas yang masuk-keluar, kemudian lupa diri. Membiarkan pikiran mengembara lepas dari napas, (menuju) pulang ke rumah, ke toko-toko atau pelbagai tempat berbeda atau pun mengerjakan beragam hal. Mung- kin setengah jam pun berlalu sebelum tiba-tiba sadar dan mulai memaki diri Anda sendiri dikarenakan lemahnya kesadaran (sati). Inilah dimana Anda harus sangat berhati-hati. Ini penting sekali karena begitu ayam lepas dari kandangnya berarti pikiran keluar dari landasan ketenangannya.Anda harus menjaga untuk tetap memelihara "kesadaran mengetahui" (the knowing) ini dengan sati dan selalu menarik balik pikiran Anda. Meskipun saya katakan "menarik kembali" pikiran Anda, sesungguhnya tidak perlu ditarik karena ia sebenarnya tidak kemana-mana. Sebenarnya ini hanyalah obyek kesadaran itu sendiri yang telah berubah. Anda harus membuat pikiran tetap tinggal disini, saat ini. Sungguh, ia memang sudah selalu ada disini dan selama ada sati, maka akan ada kehadiran pikiran. Anda membayangkan menariknya kembali, padahal sebenarnya ia tidak pernah pergi kemana-mana. Itu hanya suatu perubahan yang terjadi dalam pikiran itu sendiri. Anda mengamati bahwa pikiran pergi kemana-mana, namun sebenarnya ia tidak pergi kemanapun. Perubahan ini terjadi persis pada tempat yang sama. Saat sati ini diperoleh kembali, dalam sekejap Anda kembali ada bersama pikiran Anda, tanpa ia balik dari manapun. Terdapat ke-awas-an tepat persis di tempat yang sama. Pahamilah hal ini seperti demikian.

Ketika ada "kesadaran-mengetahui" yang utuh, sadar tahu terus menerus dan tanpa putus di sepanjang dan setiap saat, dikatakan inilah kehadiran pikiran (presence of mind). Bila perhatian menyimpang dari napas pergi ke tempat lain, maka kesadaran yang mengetahui (knowing) ini terputus.

Kapan saja selama ada awareness pada napas, maka pikiran pun ada disana. Demikianlah kita bicara tentang karakteristik dari pikiran. Memang seperti inilah pikiran itu. Musti selalu ada sati dan sampajanna. Sati adalah perhatian penuh (mindfulness) dan sampajanna adalah kesadaran yang mengetahui dengan jelas. Sekarang juga, sadarilah napas Anda dengan jelas. Melatih ini akan membangkitkan sati dan sampajanna secara bersama-sama. Mereka berbagi tugas. Bila Anda memiliki sati dan sampajanna, hal ini ibarat dua pekerja yang mengangkat dan memikul papan-papan kayu secara bersamaan. Misal ada dua orang yang harus menggotong papan yang berat dan pekerjaan ini begitu beratnya hingga hampir tidak tertanggungkan, namun lalu ada seseorang yang hatinya penuh metta (cinta-kasih) melihat dan segera berlari membantu mereka. Beginilah ketika terdapat sati dan sampajanna, lalu panna pun akan muncul disitu untuk membantu, dan ketiga-tiganya bakal saling menyokong satu sama lain.

Ketika panna datang menyokong, akan ada pemahaman akan obyek-obyek mental. Misalnya, tatkala Anda sedang duduk meditasi dan kualitas-kualitas sati, sampajanna, dan panna semua hadir dalam pikiran, begitu obyek mental dialami, ini segera bakal menyulut munculnya perasaan-perasaan dan mood. Barangkali Anda mulai terpikir akan seorang teman, maka tentu seketika muncul jawaban, Gak masalah, tak usah dipikirin', `Stop', `Lupakan saja'. Atau bila buah- buah pikirnya tentang kemana Anda akan pergi besok, maka jawabannya, `Saya nggak tertarik, saya tidak mau merisaukan hal-hal itu'. Mungkin saja Anda mulai berpikir tentang orang lain, dan dijawab, `Tidak, saya tidak mau ikut terlibat', `Saya tak mau berurusan dengan orang lain', `Biarkan saja itu berlalu!', `Itu semua toh belum tentu dan memang tiada pernah pasti'.

Selama bermeditasi, begitulah caranya menghadapi pelbagai fenomena, dengan memahami bahwa `ini tidak pasti', tidak pasti', begitulah cara Anda memelihara kesadaran yang mengetahui (knowing). Anda harus lepas merelakan semua pemikiran itu, ocehan mental dan segala keragu-raguan. Jangan terlibat dengan hal-hal ini selama bermeditasi. Bila itu sungguh-sungguh berakhir, maka yang tersisa hanyalah sati, sampajanna dan panna dalam bentuknya yang paling murni. -Manakala ketiga kualitas ini melemah, maka beragam kebimbangan pun muncul kembali, tapi segera tinggalkanlah — sekedar sisakan: sati-sampajanna-panna. Usahakan pelihara sati sepenuhnya, habis-habisan dan terus berpraktek sedemikian sepanjang waktu. Hingga saatnya Anda akan mengerti mana yang sati, mana yang disebut sampajanna dan mana yang panna. Hasilnya, Anda akan mengerti inilah dia samadhi (konsentrasi-penuh), dan Anda akan memahami semua ini sepenuhnya secara lengkap dan utuh.

Sewaktu memfokuskan perhatian di situ, Anda akan menjumpai sati, sampajanna, samadhi dan panna saling bekerja sama (put together). Ketika mengalami obyek-obyek mental dari luar, andaipun mereka sangat memikat, maka Anda tetap bisa berkata, `Ini tidaklah pasti' ("It's not sure'). Atau bila menjengkelkan dan Anda ingin segera mengusirnya, katakan lagi `Ini tidak pasti'... Yang manapun juga, mereka itu hanyalah halangan-mental (nivarana) dan ini semua harus disapu bersih dari pikiran. Yang boleh tinggal hanyalah sati (perhatian-penuh), sampajanna (kesadaran atau pemahaman yang jelas), samadhi (pikiran yang kokoh tak bergeming), dan panna, pengetahuan menyeluruh yang sesuai dengan kebenaran. Yah, begitulah seharusnya itu semua dipahami. Hanya sejauh inilah semua yang perlu saya katakan tentang proses bekerja-nya meditasi.

Melanjutkan pembicaraan tadi -- yang mana semuanya adalah tentang perangkat atau alat-alat dalam bermeditasi -- maka sebaiknya Anda juga memiliki metta dalam batin dan pikiran. Kualitas kemurahan hati, hati yang bajik, longgar, pemaaf dan penolong -- peganglah ini semua sebagai fondasi kemurnian mental Anda. Sebagai contoh, Anda bisa mulai dengan melonggarkan lobha (sikap mementingkan diri sendiri) melalui latihan berdana. Dana itu berarti: memberi. Apabila seseorang itu egois, mereka tidak bisa merasa tenteram, yang selanjutnya membawa pada pelbagai ketidaknyamanan. Konyolnya: orang-orang cenderung sangat mementingkan diri sendiri tanpa menyadari akibat buruknya bagi mereka sendiri.

Anda dapat mengalami hal tersebut kapan saja. Coba amati, khususnya apabila Anda sedang lapar. Misal Anda mendapat dua buah apel, dan ada kesempatan untuk berbagi dengan seorang teman; Anda menimbang-nimbang beberapa saat, dan, memang, niat untuk memberi itu jelas ada, tapi Anda hanya ingin memberikan apel yang lebih kecil. Untuk memberikan apel yang besar, yaa..., oh sayang sekali! Sulk buat berpikir langsung. Anda mengijinkannya, "Silakan ambil satu". Namun kemudian Anda bilang, "Ini, ambillah..." dan menyodorkan apel yang lebih kecil. Ini satu bentuk keegois-an yang orang-orang jarang sekali memperhatikan. Pernahkah Anda berlaku demikian?Dalam ber-dana Anda memang musti bergerak melawan arus. Meskipun saat itu Anda ingin memberikan bagian yang kecil, Anda harus paksa diri sendiri untuk memberikan apel yang besar. Dan tentu saja, begitu Anda berhasil memberikannya pada rekan tersebut, Oh! Betapa nyaman batin ini...Melatih batin untuk melawan-arus sungguh butuhkan disiplin- pribadi.

Anda harus tahu bagaimana memberi dan merelakan, tidak membiarkan sifat-mementingkan-diri-sendiri bercokol. Begitu Anda telah belajar bagaimana memberi dan berbagi dengan orang lain, pikiran Anda akan ringan dan nyaman. Bila Anda masih tak tahu bagaimana memberi, masih ragu-ragu buah mana yang harus diberikan, pikiran jadi susah; dan meskipun Anda kemudian memberi bagian yang lebih besar, bakal masih ada rasa sesal... Namun bila dengan segera Anda tegas memutuskan: memberi yang besar, maka masalah pun sekejab berlalu, selesai. Inilah caramela- wan watak sendiri dengan benar.

Dengan berlaku demikian, berarti Anda menang: berhasil menguasai diri sendiri. Sebaliknya: kalau Anda tak dapat melakukannya, itu seperti Anda telah dikalahkan oleh diri Anda sendiri dan akan terus menjadi egois. Kita semua pernah berperilaku egois -- inilah kilesa (kekotoran-batin) yang perlu dipotong. Dalam kitab-kitab Pali, praktik memberi disebut ber-dana, yang akan membawa kebahagiaan pada orang lain, dan untuk membantu proses pemurnian pikiran dari kekotoran batin. Anda harus merenungkan hal ini serta mengembangkannya dalam praktik.

Anda mungkin berpikir latihan demikian ini seperti membuat susah diri sendiri, tapi itu tidaklah benar. Lebih tepatnya adalah: Anda membuat susah si tanha dan kilesa. Jika kilesa muncul, Anda mesti berbuat sesuatu untuk menyembuhkannya. Kilesa itu seperti seekor kucing nyasar. Jika Anda memberinya makan sebanyak yang ia mau, ia bakal terus menerus datang untuk meminta lebih lagi. Suatu hari jika ia mencakar dan Anda tidak memberinya lagi makan, ia masih akan muncul sambil mengeong, dan Anda tetap tidak memberinya makan satu atau dua hari berikutnya, maka ia tak akan datang lagi. Sama halnya dengan aneka ragam kilesa. Kalau Anda berhenti memberi mereka makan, mereka tidak akan datang mengganggu Anda lagi; mereka bakal membiarkan pikiran tinggal dalam damai. Jadi daripada membiarkan diri Anda takut pada kilesa, buatlah mereka yang takut pada Anda; caranya dengan melihat Dhamma dalam batin Anda di sini dan saat ini juga.

Dimanakah letaknya Buddha-Dhamma? Ada di dalam pemahaman dan penyadaran akan apa saja yang berlangsung dalam pikiran ini. Setiap orang mampu untuk mengetahui, semua orang dapat memahaminya. Buddha-Dhamma tidaklah berada di dalam buku, tidak perlu mengerjakan sesuatu yang hebat, studi dan baca yang banyak sekali. Cukup lihat ke dalam diri Anda sekarang juga, Anda akan mengerti apa yang saya bicarakan ini. Setiap orang dapat melihatnya karena ia terletak tepat di batin semua orang. Setiap orang pasti punya kilesa, ya kan? Bila Anda dapat melihatnya, maka Anda dapat memahaminya. Dahulu, Anda sudah memberi kekotoran-batin ini makan dan memeliharanya, sekarang Anda harus mengenalinya dan tidak mengijinkan mereka datang membuat susah diri Anda lagi.

Unsur pokok berikutnya dalam praktik adalah menjaga sila (moralitas). Sila akan melindungi praktik dan memeliharanya ibaratnya seperti ibu dan ayah yang merawat anaknya. Menjaga sila maksudnya tidak hanya berarti menghindari untuk melukai orang lain (makhluk lain) tapi lebih jauh juga: membantu dan melindungi mereka. Minimal, Anda harus menjaga lima sila (Pancasila), yakni:
  1. Tak hanya tidak membunuh atau sengaja merugikan makhluk lain, namun juga menebarkan niat-bajik terhadap seluruh makhluk.
  2. Jujur, menahan diri dari penyalahgunaan hak-hak makhluk lain -- dengan kata lain: tidak mencuri.
  3. Dengan sadar tidak berlebihan dalam menjalin hubungan seks. Dalam kehidupan berumah-tangga, berlaku struktur keluarga dimana terdapat seorang suami dan seorang istri. Jika Anda tahu rasa-cukup (moderation), maka Anda dapat menjalankan praktik Dhamma. Sekedar kenalilah siapa suamimu atau siapa istrimu. Mengenal cukup, tidak berlebihan dalam jumlah aktivitas seks, tahu batas dan tidak mengumbar sesuka hati. Sering orang-orang tidak tahu batas, mungkin satu suami tidak cukup, maka mereka punya kedua atau ketiga. Menurut hemat saya, dengan satu pasangan pun Anda tidak bakal bisa total memuaskan mereka sepenuhnya meski dengan cara apapun, jadi memiliki dua atau tiga pasangan adalah cuma mengumbar nafsu kasar. Dalam hal ini, Anda mesti coba membersihkan pikiran Anda dan melatihnya agar tahu rasa-cukup. Hidup bersahaja adalah kemurnian sejati; tanpanya maka takkan ada batas dalam berperilaku. Apabila Anda diberi sejumlah makanan lezat, jangan larut terlalu jauh pada rasanya yang enak, ke- nalilah perut Anda dan seberapa banyak makanan yang pantas dibutuhkan. Jika makan berlebihan, hal itu dapat mengganggu, untuk itu tahulah hidup bersahaja. Tahu cukup adalah jalan yang terbaik, cukup dengan satu pasangan saja; dengan dua atau tiga pasangan malah akan menyebabkan ribut dan kacau.
  4. Berbicara jujur. Ini juga sebuah alat untuk mencerabut kilesa. Seseorang mustilah lurus, jujur dan tulus.
  5. Menahan diri dari meminum minuman keras atau mengkonsumsi narkoba.
Anda harus bisa mengendalikan diri dan lebih baik tinggalkan semua itu. Orang itu toh sudah di-mabuk-kan oleh keluarga mereka, saudara dan teman, harta benda, kekayaan dan apa saja. Rasanya cukuplah sudah, jangan diperparah lagi dengan mengkonsumsi minuman keras atau narkoba. Hal itu hanya akan membuat pikiran ini gelap. Jelas, orang yang menjualnya tidak mengerti dan tidak peduli. Andalah yang musti melihatnya sendiri. Seseorang yang minum dalam jumlah banyak, berusahalah untuk menguranginya berangsur, dan akhirnya dapat meninggalkan semua itu secara total.

Barang- kali saya perlu meminta maaf, namun saya berbicara seperti ini, sesungguhnya adalah demi kebaikan Anda sendiri, agar Anda mengerti dan sadar mana hal yang bermanfaat. Anda perlu mengerti bagaimana keadaan yang sebenarnya. Seperti misal sekarang Anda tinggal di sini, hal apakah itu yang sedang menekan anda? Perbuatan-perbuatan apa yang menyebabkan tekanan (stress) ini muncul? Berbuat baik akan memberikan hasil yang baik dan berbuat buruk akan membuahkan akibat yang buruk. Inilah penyebabnya. Inilah yang saya ingin Anda pahami. Sekali lagi saya meminta maaf, saya sungguh tak ingin berbicara begini, tapi sebagai murid Sang Buddha, saya HARUS melakukannya! Semua yang telah saya katakan di sini adalah untuk memberikan perangkat guna membantu dan mendukung Anda dalam berpraktek.Begitu sila ini murni, akan memunculkan kualitas-kualitas: kejujuran serta kebaikan hati terhadap sesama, dan hal ini akan membawa kepuasan hati, bebas dari rasa khawatir dan penyesalan. Bebas dari rasa menyesal adalah salah satu wujud kebahagiaan, rasanya hampir seperti hidup di alam surga. Anda makan dan tidur dengan nyaman diliputi kebahagiaan yang terbit dari sila. Inilah prinsip praktik Dharma - - mengendalikan diri dari tindakan-tindakan buruk sehingga kebajikan pun terbit. Apabila sila dijaga dengan cara demikian, kejahatan akan hilang dan timbul kebaikan. Inilah hasil dari praktek yang benar.

Namun ini belumlah akhir ceritanya. Begitu orang sudah memperoleh kebahagiaan, mereka cenderung jadi lalai, tidak lagi menjalankan praktiknya lebih lanjut; mereka terpaku pada kebahagiaan. Mereka tidak melanjutkan praktek, man- deg, lebih tertarik pada kebahagiaan `surgawi' ini. Memang menyenangkan hidup seperti itu, tetapi tidak ada pengertian tulen di situ. Anda harus terus merenungkan hal ini dan jangan terdelusi. Renungkan lagi dan lagi rapuhnya dari kebahagiaan ini. Ia tidak pasti; takkan berlangsung selamanya. Tak terlalu lama Anda bakal berpisah dengan kebahagiaan ini. Ini sungguh tidak pasti. Begitu kebahagiaan ini pergi, maka penderitaanlah yang muncul, dan orang mulai menangis lagi. Bahkan para `dewa' dan `dewi' pun akan berakhir dengan tangis dan penderitaan.

Untuk itulah, Sang Buddha memberitahu agar tetap terus merenungi guna melihat kekurangan ini, bahwa masih terdapat sisi tidak memuaskan dari kebahagiaan ini. Namun demikian, selama orang-orang mengalami kebahagiaan ini, mereka cenderung tidak bisa sungguh-sungguh mengerti. Kedamaian ini seolah-olah nyata dan pasti, terselimuti oleh kebahagiaan yang mengecoh, dan menghalangi orang untuk bisa melihat aspek penderitaan di balik itu.Kebahagiaan tersebut bukanlah kedamaian yang pasti dan abadi, tapi malah merupakan salah satu bentuk dari kilesa. Ini bentuk halus dari kilesa yang mana setiap orang akan terpikat di dalamnya. Semua orang senang akan bahagia. Padahal, kebahagiaan itu timbul justru karena kita sedang terpikat. Begitu sifat memikatnya itu hilang, maka penderitaan pun muncul. Di sinilah orang harus merenungkannya, melihat bahwa itu tidak pasti dan segala keterbatasannya. Begitu hal-hal berubah, penderitaan muncul dan hal ini pun juga tidak pasti, akan berlalu. Jangan menganggap bahwa ini adalah pasti dan aman. Inilah yang disebut Adinavakatha, perenungan akan sifat tidak memuaskan dan keterbatasan dari segala yang berkondisi (sankhara). Ini berarti memeriksa dan merenungkan kebahagiaan, bukan sekedar terima men- tah-mentah begitu saja. Memahaminya sebagai sesuatu yang tidak pasti, jangan kita melekat kuat padanya.

Kita cukup memegang dan kemudian membiarkannya berlalu, lebih baik daripada menggenggamnya dengan erat. Lihatlah sisi manfaat dan sisi kerugian yang terkandung dalam kebahagiaan. Memahami meditasi berarti bersedia mengakui aspek cacat yang terkandung dalam kebahagiaan ini. Renungkanlah. Saat kebahagiaan hadir di situ, amatilah dengan tuntas dan mendalam hingga kekurangan-kekurangan tadi nampak dengan jelas. Inilah kualitas khusus dari seseorang yang menjalankan praktik meditasi.Begitu seseorang mampu melihat bahwa segala hal itu tak sempurna, tak mampu untuk sungguh-sungguh memuaskan (dukkha), maka hati dan pikiran akan mengerti Nekkhamakatha -- batin yang merefleksi mentas meninggalkan kegairahan-nafsu, seiring dengannya pikiran pun menjadi enggan, bakal mencari jalan untuk lepas darinya. Keengganan akan datang setelah menyaksikan bagaimanakah sesungguhnya dunia-wujud, bagaimana sejatinya hakekat suara, hakekat sifat bau-bauan, hakekat pengecapan, hakekat cinta dan benci. Timbul rasa-enggan, yang berarti: mengindikasikan tiada hasrat lebih jauh untuk menempel atau melekat pada aneka fenomena lagi. Mundur teratur dari kemelekatan (upadana) sampai titik dimana Anda bisa tinggal dengan nyaman, mengamatinya dengan tenang-seimbang tanpa lengket ataupun menggenggam. Inilah kedamaian yang lahir dari praktek.

Sekarang, saya ingin menanyakan praktik anda. Anda sudah bermeditasi di sini, namun di dalam benak anda, apakah Anda sudah yakin atau percaya pada praktek Anda sendiri? Dewasa ini bermacam-macam orang mengajarkan meditasi, termasuk para bhikkhu pun umat awam. Untuk itu saya takut Anda penuh keragu-raguan atas praktek seperti ini. Sungguh tidak ada yang lebih hebat atau lebih tinggi dibanding ajaran Sang Buddha yang mana sedang Anda praktekkan di sini. Bila Anda mengerti dengan jelas, Anda dapat membuat pikiran dan batin ini damai dan tidak bergejolak.

Dalam usaha Anda membuat pikiran ini tenang, yang dikenal dengan sebutan samadhi bhavana atau meditasi, Anda tentunya telah mengamati bahwa pikiran ini berubah-ubah. Beberapa hari Anda duduk bermeditasi, pikiran dengan cepat sekali menjadi tenang. Saat lain ketika duduk, entah kenapa pikiran tidak bisa tenang, terus menerus bergumul, berusaha cari jalan keluar hingga akhirnya bisa juga. Beberapa hari pikiran ini baik-tenang, pada hari lainnya tidak terlalu baik. Keadaan pikiran memperlihatkan dirinya pada kita untuk dipahami. Anda harus mengerti bahwa jalan mulia berunsur delapan datang bersama-sama dalam sila-samadhi-panna dan tidak ada yang lain. Seperti Anda bermeditasi barusan, Anda membawa sila-samadhi-panna pada tempatnya. Dengan kata lain Anda memberi kondisi munculnya Sang Jalan dengan cara langsung.Ketika duduk bermeditasi, sebaiknya memejamkan mata, karena ini mendorong Anda untuk dapat mengenali pikiran Anda sendiri, jangan melihat-lihat berbagai macam hal. Lihatlah ke dalam pikiranmu sendiri. Kalau Anda tutup mata, perhatian akan diarahkan ke dalam dan ini akan menghasilkan banyak ragam pengetahuan — yang tidak pernah kita lihat selama ini. Saat Anda duduk bermeditasi dengan mata terpejam, sadari napas dengan sejelas mungkin. Seolah-olah tidak ada hal lain yang lebih penting dibandingkan napas. Kita katakan sadar sepenuhnya ke dalam, mengikuti napas dan seiring dengannya Anda akan kenali tempat dimana sati, `yang mengetahui' dan kesadaran datang bersamaan.

Kapan saja faktor-faktor ini menjadi harmonis. Anda dapat melihat napas, perasaan yang dialami, pikiran dan obyeknya berlangsung sedemikian adanya. Akhirnya Anda akan tahu titik fokal dimana samadhi hadir, tempat dimana kesemua faktor-faktor ini bersatu.Ketika Anda bermeditasi, letakkan perhatian sepenuhnya pada napas dan bayangkan diri Anda sedang duduk disini sendiri tanpa ada orang lain maupun hal lainnya. Tekankan perhatian pada perasaan ini bahwa Anda sedang duduk sendiri dan tumbuh-kembangkan hingga pikiran tidak menghiraukan hal-hal diluar lagi sepenuhnya. Cukup sadar pada napas yang masuk dan keluar, abaikan segala hal diluar. Jangan biarkan diri Anda mulai keluyuran memikirkan tentang orang lain, siapa yang duduk disebelah sini? Siapa yang di situ? Kapan saja pikiran memunculkan tanda-tanda kegelisahan, jangan meladeninya. Lebih baik buang mereka jauh-jauh dan jangan diurusi lagi. Tidak ada seorang pun disekeliling saya, kecuali diri ini. Lanjutkan hingga semua persepsi-persepsi dan ingatan yang beraneka macam muncul dan berlalu. Anda tidak lagi bertanya-tanya tentang orang ataupun keadaan di sekitar Anda diluar diri. Kemudian Anda dapat menempatkan perhatian semata-mata pada setiap tarikan dan hembusan napas. Biarkan napas berjalan dengan alami, janganlah memaksanya lebih panjang atau lebih pendek, lebih kuat atau lebih lemah dari biasanya. Biarkan ia berlangsung dengan normal dan mantap. Duduk dan amatilah napas yang masuk dan keluar.

Saat pikiran sudah tidak memperdulikan lagi hal-hal yang terjadi di luar, pikiran tidak akan terlalu terpengaruh lagi oleh suara-suara lalu lintas atau bunyi lainnya. Bagaimanapun kondisi-kondisi diluar, suara-suara atau apapun juga tidak akan menjadi sumber gangguan lagi, karena pikiran sudah tidak lagi memberikan perhatian penting untuk hal-hal tersebut. Pikiran sudah begitu terpusat dan terkonsentrasi pada napas.

Jika pikiran ini terganggu oleh aneka macam hal, dan susah bagi Anda untuk berkonsentrasi, tariklah napas dalam-dalam hingga tidak ada lagi ruang untuk menampung udara didalamnya. Kemudian hembuskan napas hingga tak bersisa. Ulangilah tiga kali dan pusatkan kembali pikiran kepada `yang-Mengetahui' (the Knowing). Setelah Anda menguatkan kembali konsentrasi, adalah normal bagi pikiran menjadi tenang beberapa saat kemudian kembali gelisah dan bingung lagi. Untuk itu kokohkan kembali pikiran dengan menarik sebuah napas dalam-dalam, kemudian hembuskan hingga terbuang sempurna. Isilah paru-paru untuk menampung udara lagi beberapa saat dan setelah itu bawa pikiran kembali pada napas, kokohkan lagi sati pada napas yang masuk dan terus pelihara ke-awas-an dengan cara demikian ini.

Sudah tentu diperlukan usaha dan banyak latihan duduk sehingga Anda dapat cukup terampil untuk membiarkan dunia luar berlalu, serta tenang tak terganggu. Obyek-obyek dan suasana luar sudah tidak dapat menggoyangkan pikiran ini lagi. Ketika tidak ada lagi hal-hal yang berkenaan dengan itu semua, Anda akan dapat mengawasi pikiran yang diwujudkan dengan adanya suatu sensasi di ujung hidung, ditambah lagi bersamaan dengan napas akan muncul suatu obyek pikiran, hadir di situ. Sati tidak lagi bergejolak dan terus mengawasi napas tanpa kesulitan yang berarti. Bila pikiran ini tenang, napas berangsur-angsur lembut dan semakin halus. Obyek dari pikiran pun menjadi lebih halus, pikiran dan tubuh ini terasa lebih ringan dan segala fenomena-keadaan diluar pergi-berlalu. Pikiran akan terus mengawasi hal-hal didalamnya segala yang dirasakan tubuh atau apapun yang muncul dalam pikiran, dari saat ke saat.

Sejak itu, `Kesadaran-yang-Mengetahui' akan beralih dari hal-hal luar ke-dalam pikiran, dan fokus terhadapnya. Saat kesadaran muncul dari dalam bersamaan dengan itu, peliharalah ke-awas-an di situ. Akan Anda dapati napas yang masuk dan keluar dengan sangat jelas. Sati menjadi jelas, segala aktivitas mental terlihat dengan lebih jelas. Pada titik ini, Anda akan mengerti bagaimana sila, samadhi dan panna datang bersama-sama, inilah yang disebut bersatunya jalan. Saat penyatuan ini berlangsung, pikiran terbebas dari segala perasaan gelisah dan bingung. Pikiran menjadi begitu manunggalnya, inilah yang disebut dengan samadhi. Ketika Anda mengawasi hanya satu titik, yaitu napas, bersamaan dengannya akan ada pemahaman dan kesadaran yang jelas, sebagai hasil dari mempertahankan sati terus-menerus. Bersamaan dengan kesadaran pada napas yang semakin jelas, sati semakin kuat dan pikiran menjadi lebih peka, lebih sadar akan berbagai macam hal. Anda dapati pikiran mengawasi semua ini bersama-sama hingga pikiran sebegitu manunggalnya, kesadaran mengarah ke dalam [saat ini, di sini]. Dunia luar berangsur-angsur lenyap dari pikiran. Pikiran tidak lagi mengurus apapun juga hal-hal yang di luar sana. Ibaratnya Anda telah kembali pulang ke `rumah' Anda dimana segala sesuatunya mewujud jadi satu unit lengkap dan kompak. Ada rasa senang dan puas disana. Kesadaran (awareness) terbebas dari hal-hal diluar dan hanya tinggal bersama napas.

Setelah satu periode waktu, keawasan ini pun bersatu dengan napas, napas jadi kian amat lembut, sampai akhirnya sensasi akan napas pun menghilang dengan sendirinya. Anda boleh katakan bahwa kesadaran akan napas tidak ada lagi, atau napas itu sendiri lenyap, dan muncul ke-awas-an yang lebih dalam, jenis yang berbeda dari sebelumnya.Bisa jadi, Anda hanya duduk di situ dan kelihatannya tidak ada lagi napas. Sebenarnya napas masih tetap ada di situ, tapi ia menjadi semakin halus hingga nampaknya seolah-olah tidak ada. Ini karena pikiran sudah sangat-sangat halus, kesadaran sangat tajam. Yang tersisa hanyalah `yang- Mengetahui' ini. Meskipun napas telah hilang, yang masih hadir hanyalah pengetahuan bahwa napas itu sudah tak ada. Jadi sekarang apa yang harus diambil sebagai obyek meditasi? Ambillah 'yang-Mengetahui' ini sendiri sebagai obyek untuk melanjutkan meditasi, pengetahuan bahwa tak ada lagi napas. Anda boleh mengatakan bahwa: suatu kesadaran- yang-mengatahui khusus telah terbentuk.

Pada titik ini, Anda mungkin memiliki keragu-raguan karena ada hal-hal yang tak diharapkan muncul dengan sendirinya, termasuk nimitta. Dapat bermacam-macam jenisnya, baik bentuk maupun suara. Jika nimitta ini timbul -- beberapa orang mengalaminya, beberapa tidak -- pahamilah ia sebagaimana mestinya sesuai dengan kebenaran (truth). Jangan bingung atau membiarkan diri Anda geger.Pada tahap ini, seharusnyalah menjaga konsentrasi dengan penuh kewaspadaan, kuatkan sati dengan kemampuan dan usaha terbaik anda. Anda dapat saja takut ketika mendapati bahwa tidak ada lagi napas di situ, karena Anda sudah terbiasa ada napas di sana. Ketika nampaknya napas telah hilang, Anda menjadi panik dan takut kalau-kalau Anda akan mati. Di sini Anda harus mempunyai pemahaman bahwa adalah wajar terjadi hal seperti ini. Amatilah bahwa tidak ada napas, terima saja dan ambillah kesadaran akan tiadanya napas sebagai obyek bagi 'yang-Mengetahui' ini. Dikatakan bahwa inilah tahap paling stabil dari samadhi, dengan satu obyek pikiran yang kokoh tak tergoyahkan. Begitu samadhi mencapai tahap ini, banyak hal-hal aneh dan tidak umum bisa dialami pikiran. Tubuh terasa sangat ringan atau bahkan hilang. Atau mungkin Anda rasanya melayang di udara dengan perasaan tanpa bobot sama sekali. Dan dimana saja, saat Anda melihat atau menjadi sadar, tidak ada apa-apa yang terjadi. Seolah-olah Anda sedang berada di udara dan tidak yakin kalau-kalau tubuh sedang duduk disini. Inilah emptiness (kosong) sempurna, lengkap dan seluruh pengalaman ini terasa agak aneh, asing bagi Anda.

Mengerti dan pahamilah bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Buatlah perasaan ini kalem dan tenang, bangun rasa kokoh-aman dalam batin. Karena sekali pikiran ini terpusat dan terkonsentrasi, tidak ada obyek dan suasana apapun yang dapat menembus ke dalamnya. Anda dapat tinggal diam seperti ini untuk waktu yang lama sekali, tanpa merasakan sakit ataupun taknyaman selama bermeditasi.

Manakala latihan samadhi telah mencapai level demikian ini, Anda bisa masuk ataupun keluar [dari keadaan samadhi mendalam ini] sekehendak hati. Dan boleh dibilang, Anda meninggalkannya dengan nyaman dan santai, bukan karena perasaan malas, lemah atau lelah. Anda meninggalkannya karena memang waktunya perlu untuk keluar dari kondisi samadhi tersebut. Kalau Anda duduk dan memasuki samadhi seperti ini dalam waktu 30 menit atau satu jam saja, maka hati serta pikiran akan menjadi sejuk dan kalem hingga berhari-hari. Hasilnya: pikiran menjadi sangat murni, apapun yang dialaminya akan diambil dan dikontemplasikan.

Samadhi itu berfungsi untuk menenangkan dan mengheningkan. Samadhi, sila, dan panna itu masing-masing punya fungsinya sendiri-sendiri. Dalam meditasi kita memfokuskan perhatian pada karakteristik-karakteristik ini yang kemudian saling kait-mengkait membentuk lingkaran. Begitulah sila, samadhi, panna tampil bersama di dalam pikiran. Begitu pikiran telah mulai tenang, maka dengan tampilnya panna dan kekuatan samadhi, disitu akan muncul keteguhan serta kendali dengan sendirinya. Enerji muncul dari ketenangan dan pemurnian pikiran, dan enerji tersebut akan mendukung hingga membuat sila semakin murni. Berikutnya hal ini akan kian menyokong samadhi, meningkatkan kwalitas samadhi yang sudah ada, dan berkembangnya samadhi akan mengembangkan serta mendukung panna. Semua itu kait mengkait dan saling mendukung. Pada puncaknya akan timbullah magga, Jalan, yaitu sintesa dari ketiga unsur ini. Sila, samadhi, dan panna yang bekerja bersama-sama dengan lancar serta konsisten akan membentuk satu kesatuan, dan Anda musti menjaga enerji ini. Inilah enerji yang membangkitkan vipassana (pengetahuan kebijaksanaan/insight). Dan pada tingkatan ini, begitu panna telah bangkit, ia bakal menyediakan enerji dari dirinya sendiri secara mandiri, terlepas dari pikiran ini sedang tenang atau tidak. Apabila pikiran ini sedang tenang, ia tidak melekat dan bila sedang tidak-tenang, ia pun juga tidak melekat. Bisa membiarkan segala kerisauannya berlalu dan pikiran pun akan menjadi sangat enteng dan nyaman kendati Anda mengalami sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. -- Demikianlah pikiran ini menjadi tenteram dan damai.

Juga sangat penting, adalah selalu memperhatikan bahwa: karena pikiran ini belum cukup bijak, maka biasanya begitu meditasi formal selesai, sehabis bangkit dari duduk, Anda sering melupakan semuanya, tidak lagi sensitif atau mengkontemplasikan praktik yang seharusnya musti terus dilanjutkan [di kehidupan sehari-hari, di luar duduk-formal]. Ketika Anda keluar dari samadhi, Anda dapat menyadari dengan baik dan selanjutnya bertindak-tanduk sewajarnya. Namun demikian, haruslah tetap ada `kesadaran-yang mengetahui' di situ sati yang terus menerus serta seimbang. Jadi Anda bermeditasi bukan hanya ketika dalam posisi duduk saja, samadhi itu berarti: membuat pikiran terpusat dengan kokoh. Selagi berjalan, Anda harus membuat pikiran ini tenang dan diam, dan pelihara-jaga pikiran yang diam ini dengan konsisten dalam segala aktivitas. Milikilah sati dan sampajanna sepanjang waktu. Tidak hanya ketika sedang duduk, tapi saat berjalan, di dalam mobil atau di mana saja, bila mata melihat sesuatu bentuk atau telinga mendengar suatu bunyi, Anda harus menjaga 'yang-Mengetahui' ini. Bila ada rasa terpikat atau rasa penolakan terhadap sesuatu dalam pikiran, seketika itu juga tegakkan dan jaga 'yang-tahu' ini pada keadaan-keadaan mental seperti itu. Mereka semua adalah tidak kekal, pikiran akan tinggal diam dan `normal' dengan sendirinya.

Begitu pikiran sudah tenang, renungkanlah obyek pikiran. Renungkanlah keseluruhan dari bentuk-bentuk ini, tubuh dan pikiran, lakukan ini sepanjang waktu. Tidak hanya ketika sedang duduk tapi ketika di rumah atau sedang bekerja, di segala keadaan. Terus-menerus renungkan apa yang sedang dialami tubuh dan pikiran. Cukup dengan melihat pohon yang dikelilingi oleh rerontokan daun ketika jalan- jalan, ini juga petunjuk ketidak permanenan, anicca. Kita ini sama dengan daun-daun berguguran, begitu usia sudah lanjut, kita menjadi berkerut, lemah dan mati. Semua orang sama. Ini disebut meningkatkan pikiran ke level vipassana, merenungkan segala sesuatu terus menerus. Sati akan terpelihara dengan mantap dan terus-menerus baik ketika sedang berdiri, berjalan, duduk ataupun berbaring. Ketika Anda mengikuti dan memeriksa pikiran dengan rapat di sepanjang waktu, ini dinamakan mempraktekkan meditasi dengan cara yang benar.

Bermeditasi disini, sekarang jam 7 malam. Kita sudah duduk dan bermeditasi selama sejam dan sekarang berhenti. Barangkali pikiran ini ikut berhenti juga, sesudah itu tidak merenungkan apapun lagi. Ini adalah cara yang salah dalam berpraktek. Ketika Anda selesai tadi, yang berhenti itu hanyalah perkumpulan dan meditasi formal bersamanya, tapi `yang-Mengetahui' ini harusnya masih terus bekerja, secara rata dan tanpa putus.Sering saya katakan, bahwa bila Anda tidak berpraktek secara kontinyu, itu seperti tetesan-tetesan air, karena sati tidak mengalir lancar. Didalam praktik itu tidak ada hal lain yang menjalankannya selain pikiran ini, bukan tubuh yang mengerjakannya. Pikiranlah, ia yang bekerja, yang berpraktek. Bila Anda sungguh mengerti hal ini, akan Anda dapati tidak lagi perlu harus duduk bermeditasi (formal), pikiran sudah mengenali samadhi. Adalah pikiran yang mengerjakan praktek ini, Anda musti memahami ini.Begitu mengerti hal ini, Anda seharusnya mengembang- kan dan memelihara `knowing' sepanjang waktu, baik ketika sedang berdiri, berjalan, duduk atau berbaring. Mungkin masih seperti air yang menetes, belum berupa aliran yang terus-menerus. Praktiklah dengan sati, praktik kontinyu hingga `knowing' ini bagaikan aliran air yang terus menerus. Sati akan hadir setiap saat dan sejalan dengan itu: bakal ada 'knowing' yang terus-menerus akan obyek-obyek pikiran. Dengan memiliki sati, pengendalian dan ketenangan yang kontinyu dan mantap, berarti Anda akan mengetahui hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat ketika muncul dalam pikiran. Atau kapan pikiran tenang dan terganggu. Jika Anda latih pikiran ini, dimanapun Anda berada akan jadi demikian ini dan meditasi Anda pun akan berkembang dengan cepat dan sangat baik.

Jangan salah mengerti. Dewasa ini orang-orang menjalankan retret vipassana selama 3 hari atau seminggu, tanpa berbicara ataupun mengerjakan hal-hal lainnya. Selama 10 hari atau dua minggu, mereka menjaga tetap diam dan kemudian selesai. Setelah retret selesai, mereka berpikir, Ahh, saya sudah menjalankan "vipassana", dan sudah tahu semuanya itu'. Kemudian mereka pergi ke pesta-pesta, hiburan malam, disko dan berfoya-foya sesuka hati. Ketika mereka berperilaku demikian, maka apa yang terjadi? Takkan ada apapun lagi yang tersisa dari retret. Mereka pergi dan melakukan serangkaian hal-hal bodoh yang mengacaukan dan mengganggu pikiran, menghabiskan segala-galanya. Setelah itu tahun depannya, mereka kembali dan menjalankan retret lagi selama 7 hari, dua minggu atau sebulan. Lagi-lagi sesegera retret usai, mereka balik ke hiburan malam, dugem, disko, berpesta pora dan mabuk-mabukan. Demikian ini bukanlah praktek. Ini bukanlah patipada, jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Anda perlu berusaha meninggalkannya. Pikirkanlah efek-efek membahayakan yang datang dari tabiat Anda, bahaya dari mabuk-mabukan dan pergi ke bar-bar. Lihatlah bahaya yang dibawa hal-hal ini hingga ia jelas sepenuhnya. Kemudian mungkin saja bagi Anda menarik diri dari semua itu, dengan demikian mencapai kedamaian. Untuk memperoleh kedamaian, seseorang terlebih dulu dapat melihat kerugian dari hal-hal negatif ini dan inilah cara yang benar untuk berpraktek. Jika Anda retret selama 7 hari dimana tidak berbicara kepada siapapun, tapi kemudian lalu pergi ngobrol dan bersenang-senang, bersuka-ria selama 7 bulan. Bagaimana Anda bisa memperoleh nilai yang nyata dan berarti, hasil dari latihan berdiam-diri selama 7 hari?

Saya akan mendorong Anda semua, para perumah tangga baik pria maupun wanita, semua yang bijaksana, untuk mengerti hal ini. Cobalah untuk latihan secara konsisten. Lihatlah bahaya dari hal-hal yang merugikan di atas, lalu usahakanlah latihan yang mantap dan berkesinambungan, hanya ini. Maka ada jalan untuk mengakhiri kilesa ini. Tetapi pola dengan berdiam-diri selama 7 hari, tidak bermain, lalu kemudian dibarengi dengan empat atau lima bulan bermain-main tanpa ada pengendalian diri ataupun ketenangan berarti segala yang diperoleh dari latihan akan lenyap, tanpa bersisa sama sekali. Seperti ketika Anda bekerja selama satu hari dan memperoleh upah 20 pound, kemudian pergi dan habiskan 30 pound pada hari yang sama, dimanakah uang hasil dari bekerja seharian? Itu semua akan habis.

lni adalah semacam peringatan dan saya meminta maaf pada Anda sekalian. Saya harus membicarakan hal ini supaya hal-hal yang salah menjadi jelas bagi Anda semua, lalu Anda meninggalkannya. Datang kemari untuk berpraktek, Anda bisa katakan adalah untuk melindungi diri dari melakukan hal-hal yang buruk di masa depan. Apa maksudnya melakukan hal yang salah? Artinya melakukan sesuatu yang membawa pada kegelisahan dan penderitaan, tidak ada kebaikan dalam pikiran dan tidak ada kedamaian di sana. Memang seperti itu. Bila Anda berpraktek selama seminggu tanpa berbicara, lalu kemudian menuruti hawa nafsu selama beberapa waktu, bagaimanapun terus terang, Anda tidak akan mem- peroleh apapun dari hasil latihan selama seminggu itu. Banyak pusat-pusat meditasi seperti ini. Sungguh Anda perlu membawa hidup Anda pada pengendalian dan ketenangan yang terus-menerus.Selama bermeditasi, Anda harus penuh perhatian terus menerus, seperti ketika Anda menanam sebatang pohon. Bila Anda menanamnya di suatu tempat, 3 hari kemudian mencabutnya lalu menanamnya di tempat lain. Setelah 3 hari berikutnya, Anda mengambilnya lagi dan menanamnya pada tempat yang berbeda. Pohon itu pasti akan mati tanpa menghasilkan sesuatu pun. Sama halnya dengan meditasi, ia tidak akan berbuah. Renungkanlah ini dalam diri anda. Cobalah setelah Anda pulang ke rumah. Tanamlah sebatang pohon di satu tempat selama beberapa hari lalu ambil. Tanam kembali ia pada tempat lainnya, lalu cabut kembali. Pohon tersebut akan mati. Ini sama dengan Anda bermeditasi selama retret satu minggu. Setelah itu selesai, Anda bersenang-senang selama tujuh bulan, membiarkan pikiran menjadi ternoda. Kemudian bermeditasi lagi selama tujuh hari, tanpa berbicara dan menjaga diri, kemudian melupakan semua itu lagi. Seperti pohon, akan mati tanpa meninggalkan sesuatu pun. Pohon tidak tumbuh, meditasi Anda tidak berkembang. Saya tegaskan, berpraktek seperti ini tidak akan menghasilkan apapun. Buktikan sendiri! Pulang, tanamlah sebatang pohon muda, setelah beberapa hari ambil pohon itu. Saya pikir ia pasti sudah mati, tapi coba buktikan ini pada diri Anda sendiri.

Mengertikah anda?Saya bukannya suka bicara seperti ini, tapi ini karena saya sungguh prihatin akan Anda semua sehingga tak dapat lain: saya musti bicara secara keras. Ketika Anda melakukan hal-hal yang salah, saya mau tak mau harus mengingatkan Anda, tapi itu karena saya prihatin akan anda semua. Betapapun, mungkin beberapa orang merasa tidak nyaman dan berpikir saya pastilah sedang mengata-ngatai mereka. Sungguh, itu bukan omelan, tetapi untuk bantu menunjukkan mana kesalahan-kesalahan agar Anda ketahui dan mengerti. Beberapa orang berpikir, `Luang Por' sukanya mengkritik kita, tapi bukanlah seperti itu. Untuk sekali dalam waktu yang sudah lama sekali, saya bisa datang dan berceramah seperti ini. Bilamana saya berbicara seperti ini setiap hari, Anda pastilah marah. Tapi sungguh, bukanlah diri Anda yang marah, tapi hanya kilesa yang marah. Untuk itu hari ini saya cukupkan sampai disini.


Keterangan :
  1. Merealisasikan Dhamma, maksudnya: mencapai pencerahan.
  2. Where there is knowing, there is no need to think: knowing atau sifat "mengetahui" maksudnya adalah kesadaran (awareness) kita. Istilah lain yang kadang juga digunakan adalah: keawasan, perhatian murni, sati, "Ia yang mengetahui", mindfulness, dsb.
  3. Once you are calm, awareness will arise from within that calm, and it will contain both thinking and panna as a pair.
  4. Rasa (sensation, Pali: vedana): istilah "rasa" atau "perasaan" ini maksud- nya BUKAN suasana hati [gembira, sedih, marah, iri, murung dlsb.] tapi adalah sekedar berupa: rasa menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral -- respon otomatis yang mengikuti kesan mental [sekejab timbul begitu pikiran kita kontak dengan obyek]
  5. Kehadiran pikiran: pikiran disini merujuk ke pikiran tulen (true mind).
  6. Tanha (craving): kehausan psikologis, kecanduan, ketergila-gilaan yang subtil;nafsu kemauan/keinginan yang bodoh karena pikiran ini tidak terlatih, keliru tahu, menyangka bahwa pelbagai hal (obyek-obyek pikiran tsb.) bisa sungguh memuaskan, abadi, dan solid.
  7. Kilesa: ketika ia tidak mewujud, ketika pasif/dormant, ia berupa kotoran batin (defilements); dalam bentuk aktifnya ia mewujud berupa gangguan emosional/emosi yang teraduk/affliksi.
SADDHU! SADDHU! SADDHU!

Related Links:
www.samaggi-phala.or.id

Meditasi Jalan

Meditasi Jalan
Oleh: Sayadaw U Silananda
Alih Inggris-Indonesia: Chandasili Nunuk Y.K.
Diedit
oleh: Samuel B. Harsojo

Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan, para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda. Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan, berdiri, duduk dan berbaring. Mereka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun.

Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. Sehingga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan.


Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh. Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat, pentingnya dan kondisi alami yang bisa dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan. Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. Pertama seseorang harus mengisi air ke dalam teko. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudian kompor itu dinyalakan. Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar, air di dalam teko tidak langsung mendidih. Jika hal ini terus dilakukan, mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendidih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih.

Dengan cara yang sama, jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tidak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik. Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi hari hingga terlelap pada malam harinya. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan.

Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat atau hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut.

Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini. Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. Dalam “bagian” yang disebut “sikap tubuh” Beliau mengatakan seorang yogi tahu, “saya sedang berjalan” saat ia sedang berjalan, tahu, “saya sedang berdiri” ketika sedang berdiri, tahu “saya sedang duduk” saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai “saya sedang berbaring”.

Pada bagian lain yang disebut “pemahaman jernih” Sang Buddha mengatakan, “Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik”. Maksud dari “pemahaman yang jernih” disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati. Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi. Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya.

Lebih jauh Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu”.
Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. Jadi, meditasi jalan merupakan suatu bagian penting dari proses ini.
Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami percaya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu.

Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki “resep” berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri. Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekkan meditasi jalan. Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. Jika kalian adalah para pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan; “Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan…..berjalan…..berjalan….atau kiri-kanan…kiri-kanan…” Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan.

Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi petunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah, yaitu melangkah dan meletakkan kaki. Ini harus dicatat dalam batin sebagai, “angkat-letakkan…angkat-letakkan….angkat-letakkan”. Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan, yakni pertama proses mengangkat, kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki. Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni, pertama mengangkat, kedua maju, ketiga turun, keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai. Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut, “angkat-maju-turun-tekan”.

Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. Tapi, ketika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik, ia bisa menyadari semua gerakan itu. Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. Tidak perlu secara sengaja melambatkan langkah kaki tersebut. Namun, dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kaki akan melambat.

Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. Dengan kecepatan seperti itu akan sulit baginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Bila ia ingin membaca rambu-rambu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Tak perlu siapapun mengingatkan, “pelan-pelanlah”. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut.

Dengan pemahaman yang sama, bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat, maju, turun dan tekan, secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awas dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut.

Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergerakan tersebut dengan jernih.

Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dalam satu langkah) lebih mudah diamati.

Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu terasa ringan. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki yang turun menjadi berat dan semakin berat. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mereka merasakan sentuhan.

Lebih jauh, sepanjang pengamatan angkat, maju, turun dan tekan ke lantai, para yogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat, gerakan kaki, rasa berat saat kaki turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang “melihat” empat unsur utama (Pali: Dhatu ). Empat unsur utama itu adalah unsur tanah, unsur air, unsur api dan unsur udara. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan, empat unsur utama tersebut “nampak”. Jadi unsur-unsur itu tidak hanya sekedar konsep (teori belaka), tapi merupakan proses nyata, realitas mutlak.

Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang bekerja saat mempraktekkan meditasi jalan.

Pada gerakan pertama, yakni gerakan mengangkat kaki, yogi mengalami rasa ringan. Ketika mengalami rasa ringan mereka “melihat” unsur api. Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki. Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. Tidak hanya itu. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. Setelah itu terjadi pergerakan kaki bergerak naik. Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. Tapi, dalam hal naiknya kaki, unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Jadi bisa dikatakan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengikuti adalah unsur udara. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mereka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki.

Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. Saat kaki terdorong ke depan unsur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udara. Jadi, saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditasi jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah “melihat” intisari unsur udara.

Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. Unsur air bersifat merembes dan mengental. Saat cairan menjadi berat maka ia akan mengental. Jadi, saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air.

Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. Persinggungan antara kaki dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Kondisi ini dipengaruhi oleh unsur tanah. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah.


Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Keadaan ini hanya bisa “dilihat” dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh.

Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawasi (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Selanjutnya, ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Setelah itu ada gerakan menurunkan kaki ke landasan. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan.

Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Saat itu ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama). Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . Pada saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat.

Inilah penjelasannya. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Demikian seterusnya. Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang muncul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka yang berlatih dengan sungguh-sungguh.

Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Yakni munculnya serangkaian kehendak atau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Juga, kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Jadi, hal itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Kehendaklah yang mengawali setiap pergerakan. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. Demikian seterusnya.

Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul dengan sendirinya. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh.

Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan. Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tentang batin dan jasmani. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi.

Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna ..
Sotapanna artinya pemenang arus. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Tapi pihak terakhir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewa-dewa.

Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta, binatang, atau alam-alam neraka). Pemahaman ini bisa diraih melalui meditasi jalan. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali lagi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki.

Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Tapi, bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia.


Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal.

Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. Jika meditasi kita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bersifat tidak kekal.

Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudian lenyap.
Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Gerakan ini pun secara sederhana muncul dan lenyap, muncul dan lenyap (timbul tenggelam). Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri, pengertian muncul dalam diri para yogi.

Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku, diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini. Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Saat mereka memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani itu bersifat tidak memuaskan. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berada dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam.

Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada “tuan” dari benda-benda tersebut. Atau dengan kata lain, mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal.

Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi, yakni sifat dari anatta. Bahwa benda-benda tak memiliki “diri” di dalamnya. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun, tak ada kekuatan apapun, tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut.

Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal, penuh penderitaan dan tak ada inti yang kekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat, anicca, dukkha dan anatta). Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun saat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya.

Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat benda-benda timbul-tenggelam terus-menerus. Akibatnya mereka bisa melihat anicca, dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami.

Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dalam meditasi jalan. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. Lebih jauh, umpamanya, naiknya kaki berkisar satu detik. Katakanlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. Sehingga kamera ini bisa mengambil gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik.

Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingkai-bingkai yang terpisah itu. Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut. Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Meskipun, tentunya, rangkaian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. Inilah kenyataannya, ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapnya sebagai satu gerakan belaka.

Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. Kita pun perlu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan.

Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas perjuangan, kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut. Saat menggunakan kata “melihat” atau “mengamati” yang merujuk pada situasi diri sendiri, hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan; bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan seperti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha.

Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu langkah hanya terdiri dari satu gerakan. Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan tahu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak. Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani, timbul tenggelam, sebagai ketidakkekalan.

Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari benda-benda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan. Kita berpikir, sebagai umat awam, yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentuk satu-kesatuan gerak.

Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan. Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedikit demi sedikit, setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan.

Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubung ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Para yogi bisa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri.

Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi satu, para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. Jika melihat sesuatu yang sekilas kita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang, mudah busuk dan hancur. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya.

Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada suatu kanvas. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gambar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. Karena ternyata lukisan tersebut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga.

Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. Tak ada suatu inti sari yang kekal di dalamnya.

Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini.

Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Kita berlatih meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyek-obyek. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca, dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan. Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. Tak ada substansi yang kekal di dalamnya. Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini, sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar tersebut.
Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama seperti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring.

Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk atau jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni melihat kembung dan kempisnya perut. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat guna menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya.

Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama seperti waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Dengan mempraktekkan semua sikap tubuh dalam meditasi vipassana, termasuk sikap tubuh berdiri, semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini.

Saddhu... Saddhu... Saddhu...

Related Links: